TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pewawancara : Nurul Izzah Subhan
Narasumber :
NP- Wawancara
Jenis wawancara yang dilakukan berupa wawancara tidak terstruktur. Penulis memaparkan hasil wawancara dalam bentuk narasi. Adapun hasil wawancara bersama narasumber:
NP merupakan seorang mahasiswi pada sebuah
perguruan tinggi. Penulis menanyakan apakah ia merasakan suatu kecemasan akhir-akhir ini? Ia pun mulai menuturkan bahwa sejak masuk ke perguruan tinggi tersebut,
ia memiliki motivasi yang kurang dikarenakan jurusan yang ia masuki bukan
jurusan yang ia inginkan. Ia mengira bahwa lama kelamaan ia akan menyukai
jurusan tersebut, namun sampai di semester 4 ia masih memiliki motivasi yang
kurang terhadap jurusannya. Hal ini berdampak pada proses belajarnya. Ia
menjadi kurang paham terhadap materi yang diajarkan. Ia merasa jenuh terhadap
perkuliahan yang dijalani. Ketika ada tugas, ia sering melihat tugas temannya. Ia merasa lelah terhadap perkuliahan yang ia rasa
monoton. Ia merasa ragu apakah ia bias lulus dengan baik nantinya. Ia juga merasa
ragu untuk mempertanggungjawabkan gelar yang akan ia dapat dikarenakan merasa
belum mendapatkan apa-apa dari materi perkuliahan. Oleh karena itu, ia berpikir
untuk pindah ke kampus lain sebagai mahasiswi baru. Terlebih lagi, lingkungan
pertemanannya di kelas kurang baik. Namun, ia juga masih mempertimbangkan
banyak hal jika pindah ke kampus lain, seperti biaya yang dikeluarkan dan
perkataan orang-orang terhadap dirinya nantinya. Orang tuanya pun tidak setuju jika ia pindah kampus. Di akhir wawancara, ia merasa lega telah bercerita kepada penulis dikarenakan selama ini ia tidak tau harus bercerita kepada siapa.
Persamaan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur yaitu bertujuan untuk menggali informasi dari narasumber. Dalam hal ini, penulis melakukan wawancara tidak terstruktur dikarenakan narasumber langsung menceritakan dengan jelas permasalahan yang ia hadapi. Sehingga, penulis merasa informasi yang didapatkan sudah cukup.
Perbedaan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, wawancara terstruktur dilakukan dengan pedoman wawancara, sedangkan wawancara tidak terstruktur tidak dengan pedoman wawancara. Dalam hal ini penulis melakukan wawancara tidak terstruktur dengan melakukan percakapan biasa seperti teman pada umumnya. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan lanjutan dari respon narasumber. Narasumber merupakan teman sekaligus tetangga penulis, sehingga ia dapat menceritakan masalahnya dengan nyaman kepada penulis. Penulis pun memberikan dorongan emosional dan semangat kepada narasumber.
Persamaan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur yaitu bertujuan untuk menggali informasi dari narasumber. Dalam hal ini, penulis melakukan wawancara tidak terstruktur dikarenakan narasumber langsung menceritakan dengan jelas permasalahan yang ia hadapi. Sehingga, penulis merasa informasi yang didapatkan sudah cukup.
Perbedaan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, wawancara terstruktur dilakukan dengan pedoman wawancara, sedangkan wawancara tidak terstruktur tidak dengan pedoman wawancara. Dalam hal ini penulis melakukan wawancara tidak terstruktur dengan melakukan percakapan biasa seperti teman pada umumnya. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan lanjutan dari respon narasumber. Narasumber merupakan teman sekaligus tetangga penulis, sehingga ia dapat menceritakan masalahnya dengan nyaman kepada penulis. Penulis pun memberikan dorongan emosional dan semangat kepada narasumber.
- Observasi
Jenis
observasi yang dilakukan terhadap narasumber adalah observasi non partisipan.
Adapun hasil observasi terhadap narasumber:
NP
seperti seorang mahasiswi pada umumnya. Berdasarkan media sosialnya, penulis melihat bahwa narasumber aktif dalam suatu organisasi di
kampus. Dia sempat mengatakan pada saat wawancara bahwa organisasi sebagai tempat untuk melampiaskan rasa jenuhnya
terhadap perkuliahan. Berdasarkan pengamatan penulis pada saat wawancara berlangsung, NP sempat meluapkan
emosinya dengan menangis. Ini menandakan bahwa ia merasa tertekan. Pikiran-pikiran
untuk pindah ke kampus di luar kota berkecamuk di kepalanya. Ia terlihat lelah.
Matanya berkantung, menandakan bahwa ia kurang tidur dan seringkali begadang.
Berdasarkan hasil wawancara bersama narasumber, penulis menyimpulkan bahwa ia
kemungkinan mengalami burnout. Burnout merupakan perasaan lelah karena tuntutan belajar (emotional exhaustion), adanya rasa
pesimis dan kurangnya minat terhadap tugas belajar (cynicism), dan perasaan tidak kompeten sebagai pelajar (inefficacy).
Alimah
(2016) mendefinisikan burnout sebagai
rasa kelelahan fisik, mental, maupun emosional yang menyebabkan kinerja
mahasiswa terganggu. Kelelahan (exhaustion)
yang berhubungan dengan perkuliahan dapat didefinisikan sebagai perasaan
ketegangan terkait perkuliahan. Biasanya, kelelahan emosional tidak akan hilang
setelah tidur, bahkan berisiko mengalami gangguan tidur. Kelelahan ini dapat
memicu munculnya sikap sinis. Sikap sinis ini diwujudkan dengan sikap yang acuh
tak acuh terhadap perkuliahan dan kehilangan minat dalam proses akademik Hal
ini akan menununkan prestasi belajar dan muncul perasaan kurang kompeten
(Salmelo-Aro dan Kunttu, 2010; Kuittinen dan Merilainen, 2011).
Observasi non partisipan dilakukan penulis dengan melihat kondisi narasumber saat wawancara seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Jika penulis melakukan observasi partisipan, mungkin penulis mengetahui langsung bagaimana keseharian NP dan bagaimana sikap teman-teman NP di kampus.
Observasi non partisipan dilakukan penulis dengan melihat kondisi narasumber saat wawancara seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Jika penulis melakukan observasi partisipan, mungkin penulis mengetahui langsung bagaimana keseharian NP dan bagaimana sikap teman-teman NP di kampus.
- Kuesioner
Sumber: ROZY, Muh. "Hubungan Antara Dukungan Emosional Teman Sebaya dengan Burnout pada Mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar