Minggu, 19 April 2020

METODE PENELITIAN KUANTITATIF

BLUEPRINT KUESIONER BURNOUT

No
Definisi operasional
Indikator
Sub indikator
Pernyataan
Favorable
Unfavorable
1.
Burnout adalah perasaan lelah secara fisik, mental, dan emosional karena tertekan dengan tuntutan studi.
Kelelahan
a.Kelelahan
Fisik
Saya merasa lelah ketika bangun di pagi hari untuk menjalani perkuliahan
Saya bangun dengan semangat untuk memulai perkuliahan
Saya langsung beristirahat ketika pulang kampus
Saya menunda istirahat setelah pulang kampus
Otot leher dan bahu saya terasa tegang saat menerima materi perkuliahan
Saya rileks saat menerima materi perkuliahan
Saya begadang dan sulit tidur
Saya merasa waktu tidur saya cukup
b.Kelelahan
Mental
Saya merasa bosan dengan bidang yang sedang digeluti
Saya selalu tertarik dengan bidang yang sedang digeluti
Saya mengeluh ketika medapatkan tugas sulit
Saya bisa mengatur waktu dalam mengerjakan tugas yang sulit
Saya memandang rendah jurusan saya
Saya menikmati jurusan saya
Saya merasa kecewa dengan diri saya sendiri
Saya selalu puas dengan hasil pekerjaan saya
c.Kelelahan
Emosional
Saya mudah menangis ketika mendapatkan tugas yang sulit
Saya merasa biasa saja ketika mendapat tugas sulit
Saya merasa usaha saya tidak berharga
Saya menghargai usaha yang telah saya lakukan
Saya merasa gagal menjadi mahasiswa
Saya menjadi mahasiswa yang baik
Saya merasa rendah diri ketika melihat teman saya berhasil
Saya semakin bersemangat melihat teman saya berhasil


Saya menjadi sensitif ketika mendapat tugas yang banyak
Saya bisa mengontrol emosi saat tertekan
Tekanan studi
a.Putus asa
Saya melihat/mencontek tugas teman saya
Saya berusaha sendiri dalam mengerjakan tugas
Saya ragu dengan manfaat perkuliahan yang saya jalani
Saya belajar hal yang menarik selama perkuliahan berlangsung
Saya merasa ingin pindah kampus atau jurusan
Saya merasa cocok dengan kampus atau jurusan saat ini
Saya hanya memikirkan situasi saat ini
Saya memiliki rencana setelah lulus
b.Menurunnya
produktivitas
Saya memilih bermain hp daripada mengulang materi perkuliahan
Saya memiliki jadwal untuk mempelajari materi kuliah saya
Saya malas mengasah bakat yang saya miliki
Saya rajin mengasah bakat dan minat saya
Saya mengundur waktu dalam mengerjakan tugas
Saya memiliki target dalam mengerjakan tugas

Saya malas mendiskusikan tugas di grup chat
Saya mendiskusikan tugas kuliah di grup chat
c.Bekerja
terlalu lama
Saya merasa tertekan dengan tuntutan tugas yang banyak
Saya bisa mengatur tugas yang berat menjadi ringan dikerjakan
Saya kesal dengan tugas yang terus berdatangan
Intensitas tugas yang meningkat itu wajar
Saya menunda tugas yang sulit dan memakan waktu yang lama
Saya merasa tertantang sehingga antusias ketika mendapat tugas yang berat
Saya merasa sulit untuk menentukan prioritas diantara tugas-tugas saya
Saya bisa menentukan prioritas diantara tugas-tugas saya

Rabu, 15 April 2020

METODE PENELITIAN KUANTITATIF


TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Pewawancara  : Nurul Izzah Subhan
Narasumber    : NP

  • Wawancara

Jenis wawancara yang dilakukan berupa wawancara tidak terstruktur. Penulis memaparkan hasil wawancara dalam bentuk narasi. Adapun hasil wawancara bersama narasumber:


NP merupakan seorang mahasiswi pada sebuah perguruan tinggi. Penulis menanyakan apakah ia merasakan suatu kecemasan akhir-akhir ini? Ia pun mulai menuturkan bahwa sejak masuk ke perguruan tinggi tersebut, ia memiliki motivasi yang kurang dikarenakan jurusan yang ia masuki bukan jurusan yang ia inginkan. Ia mengira bahwa lama kelamaan ia akan menyukai jurusan tersebut, namun sampai di semester 4 ia masih memiliki motivasi yang kurang terhadap jurusannya. Hal ini berdampak pada proses belajarnya. Ia menjadi kurang paham terhadap materi yang diajarkan. Ia merasa jenuh terhadap perkuliahan yang dijalani. Ketika ada tugas, ia sering melihat tugas temannya. Ia merasa lelah terhadap perkuliahan yang ia rasa monoton. Ia merasa ragu apakah ia bias lulus dengan baik nantinya. Ia juga merasa ragu untuk mempertanggungjawabkan gelar yang akan ia dapat dikarenakan merasa belum mendapatkan apa-apa dari materi perkuliahan. Oleh karena itu, ia berpikir untuk pindah ke kampus lain sebagai mahasiswi baru. Terlebih lagi, lingkungan pertemanannya di kelas kurang baik. Namun, ia juga masih mempertimbangkan banyak hal jika pindah ke kampus lain, seperti biaya yang dikeluarkan dan perkataan orang-orang terhadap dirinya nantinya. Orang tuanya pun tidak setuju jika ia pindah kampus. Di akhir wawancara, ia merasa lega telah bercerita kepada penulis dikarenakan selama ini ia tidak tau harus bercerita kepada siapa.

Persamaan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur yaitu bertujuan untuk menggali informasi dari narasumber. Dalam hal ini, penulis melakukan wawancara tidak terstruktur dikarenakan narasumber langsung menceritakan dengan jelas permasalahan yang ia hadapi. Sehingga, penulis merasa informasi yang didapatkan sudah cukup.

Perbedaan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, wawancara terstruktur dilakukan dengan pedoman wawancara, sedangkan wawancara tidak terstruktur tidak dengan pedoman wawancara. Dalam hal ini penulis melakukan wawancara tidak terstruktur dengan melakukan percakapan biasa seperti teman pada umumnya. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan lanjutan dari respon narasumber. Narasumber merupakan teman sekaligus tetangga penulis, sehingga ia dapat menceritakan masalahnya dengan nyaman kepada penulis. Penulis pun memberikan dorongan emosional dan semangat kepada narasumber.

  • Observasi
Jenis observasi yang dilakukan terhadap narasumber adalah observasi non partisipan. Adapun hasil observasi terhadap narasumber:

NP seperti seorang mahasiswi pada umumnya. Berdasarkan media sosialnya, penulis melihat bahwa narasumber aktif dalam suatu organisasi di kampus. Dia sempat mengatakan pada saat wawancara bahwa organisasi sebagai tempat untuk melampiaskan rasa jenuhnya terhadap perkuliahan. Berdasarkan pengamatan penulis pada saat wawancara berlangsung, NP sempat meluapkan emosinya dengan menangis. Ini menandakan bahwa ia merasa tertekan. Pikiran-pikiran untuk pindah ke kampus di luar kota berkecamuk di kepalanya. Ia terlihat lelah. Matanya berkantung, menandakan bahwa ia kurang tidur dan seringkali begadang. Berdasarkan hasil wawancara bersama narasumber, penulis menyimpulkan bahwa ia kemungkinan mengalami burnout. Burnout merupakan perasaan lelah karena tuntutan belajar (emotional exhaustion), adanya rasa pesimis dan kurangnya minat terhadap tugas belajar (cynicism), dan perasaan tidak kompeten sebagai pelajar (inefficacy).

Alimah (2016) mendefinisikan burnout sebagai rasa kelelahan fisik, mental, maupun emosional yang menyebabkan kinerja mahasiswa terganggu. Kelelahan (exhaustion) yang berhubungan dengan perkuliahan dapat didefinisikan sebagai perasaan ketegangan terkait perkuliahan. Biasanya, kelelahan emosional tidak akan hilang setelah tidur, bahkan berisiko mengalami gangguan tidur. Kelelahan ini dapat memicu munculnya sikap sinis. Sikap sinis ini diwujudkan dengan sikap yang acuh tak acuh terhadap perkuliahan dan kehilangan minat dalam proses akademik Hal ini akan menununkan prestasi belajar dan muncul perasaan kurang kompeten (Salmelo-Aro dan Kunttu, 2010; Kuittinen dan Merilainen, 2011).

Observasi non partisipan dilakukan penulis dengan melihat kondisi narasumber saat wawancara seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Jika penulis melakukan observasi partisipan, mungkin penulis mengetahui langsung bagaimana keseharian NP dan bagaimana sikap teman-teman NP di kampus.

  • Kuesioner

Sumber: ROZY, Muh. "Hubungan Antara Dukungan Emosional Teman Sebaya dengan Burnout pada Mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember."

METODE PENELITIAN KUANTITATIF

BLUEPRINT KUESIONER BURNOUT No Definisi operasional Indikator Sub indikator Pernyataan ...